Tampilkan postingan dengan label RESONANSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESONANSI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

BELAJAR DARI KEPITING.


Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki.

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.

Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.

Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri. Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting. Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.

Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun... dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar. Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.

Begitu pula dalam kehidupan ini...
tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.

Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang nggak bener.

Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.

Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya.

Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.


Pertanda seseorang adalah 'kepiting':

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam bertindak

2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan

3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri.

...Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yach... dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya...

Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama. Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda menjadi pribadi yang sehat dan sukses.


Sabtu, 12 Mei 2012

Menikmati Kesulitan dan Tantangan


  Kekuatan tidak didapat dari leha-leha dan pekerjaan gampangan.
Anda bisa menanyakannya kepada para olahragawan, atlet binaraga misalnya.
Segalanya datang dari kesulitan dan tantangan.
Para atlet binaraga tahu bahwa mereka harus menempa semua otot mereka agar
bertumbuh. Dan sama dengan hal itu, karakter anda akan ditempa dengan kesulitan yang anda temui.

 Tanpa kesulitan, kita tidak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya.
Kesulitan dalam hidup, hanyalah demi anda lebih mengenali kenikmatan hidup.
Setiap rintangan yang berhasil diatasi, akan membuat anda menjadi lebih
kuat. Setiap tantangan yang anda lewati, menghasilkan kegembiraan yang lebih
sempurna.

 Tantangan memberi kita tugas untuk dikerjakan.
Bayangkan betapa keringnya hidup bila segala sesuatu muncul begitu saja saat
anda inginkan. Hargailah masa susah, karena masa itu berlimpah kesempatan.
Bangkitlah menghadapi tantangan pahit, dan hidup anda akan terasa manis.

Kamis, 10 Mei 2012

10 Karakter Pemenang dan 10 Karakter Pecundang

01.       Ketika pemenang melakukan kesalahan dia berkata "saya salah!"
Ketika pecundang melakukan kesalahan dia berkata, "ini bukan salah
saya!"

02.        Pemenang berkata, "saya sudah baik, tapi saya bisa lebih baik
lagi!"
Pecundang berkata, "saya tidak sejelek orang lain!"

03.       Pemenang mencoba belajar dari setiap orang yang lebih baik dari
pada dia.
Pecundang selalu mencoba menjatuhkan orang lain.

04.       Pemenang berkata, "mari saya kerjakan ini untuk anda!"
Pecundang berkata, "itu bukan pekerjaan saya!"

05.      Pemenang berkata, "pasti ada cara lebih baik mengerjakannya!"
Pecundang berkata, "begitulah biasanya dikerjakan disini!"

06.        Pemenang berkata, "ini sulit tapi mungkin!"
Pecundang berkata, "ini mungkin tapi sangat sulit untuk
mengerjakan!"

07.       Pemenang selalu mempunyai rencana-rencana.
Pecundang selalu mencari alasan.

08.        Pemenang mempunyai komitmen-komitmen.
Pecundang hanya berjanji-janji saja.

09.        Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban.    
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah.

10.        Pemenang tuntas memecahkan masalah.
Pecundang selalu tanggung-tanggung & tidak pernah memecahkan
masalah.

Selasa, 17 April 2012

Kaya dan Cukup

Apapun keadaan kita maka kita harus merasa KAYA dan CUKUP.

Pernyataan ini baik sekali untuk ditempatkan pada konteks
"bahagia menikmati hidup". Dan tentu tidak harus kaya material dulu.

Nah sekarang pertanyaannya bagaiman kita bisa " bahagia menikmati hidup "
dan sekaligus " kaya material " ?.

Untuk masalah "bahagia menikmati hidup", temen saya pernah ngasih tahu
caranya dengan menghindari lima hal yang sering menyebabkan kita tak
bahagia menikmati hidup :

Pertama,
Adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang
Anda pandang bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang.
Anda merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih
besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya.
Pikiran Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat membahagiakan
Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada
segala sesuatu yang tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda
miliki sekarang.

Kedua,
Anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila Anda berhasil mengubah
situasi dan orang-orang di sekitar Anda. Anda tak bahagia karena pasangan,
anak, tetangga, dan atasan Anda tidak memperlakukan Anda dengan baik.
Kepercayaan ini salah. Anda perlu menyadari bahwa amat sulit mengubah orang
lain. Bukannya berarti Anda harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah
orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan Anda di sana. Jangan
biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda membuat Anda tak bahagia. Kalau Anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu Anda ubah adalah diri Anda
sendiri, paradigma Anda.

Ketiga,
Keyakinan bahwa Anda akan bahagia kalau semua keinginan Anda terpenuhi.
Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas,
gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling hanya membawa
kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan.

Keempat,
Anda tak bahagia karena cenderung membanding-bandingkan diri Anda dengan
orang lain. Saya pernah bertemu eksekutif yang berkali-kali pindah kerja
hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih
besar dari dirinya. Karena itu, setiap ada tawaran kerja, yang dilihat
adalah apakah ia dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan
kawannya. Ia bahkan tak peduli bila harus berganti karier dan pindah ke
bidang lain. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya
"mengejar" sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi penghasilan sahabatnya.

Kelima,
Anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Anda terlalu terobsesi
pepatah "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Kapan Anda
bahagia? "Nanti, kalau sudah jadi manajer," kata Anda. Persoalannya, saat
menjadi manajer, Anda tambah sibuk, waktu Anda tambah sempit. "Saya akan
bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur atau dirjen, gubernur, menteri,
presiden." Nah, daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun,
Anda tak juga bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah, "bersakit-sakit
dahulu, bersenang-senang entah kapan." Kebahagiaan telah Anda letakkan di
tempat yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan
dapat Anda nikmati di sini, sekarang juga!
 From: abu aina

Perlunya Mempercayai


Andai Aku Engkau Percayai

(Perlunya Mempercayai)


Sulit benar membuat orang lain mempercayai pihak lain, walau untuk hal-hal yang sederhana sekalipun. Soal lampu rem misalnya. Jika ia menyala, pasti ada ada hambatan di depan. Maka sudah sepantasnya, si belakang mengikuti si depan karena depanlah yang tengah menjadi imam, melihat dengan mata kepala sendiri, paling menguasai data dan informasi.

Tapi karena azasnya sudah tidak dipercayai, maka otoritas ini sering dianggap sepi. Saat itu, akulah yang mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan ada becak yang hendak menyeberang. Biarlah ia lewat, karena bebannya berat amat. Kalau ia harus berhenti dan menggejot dari awal lagi, tentu repot sekali.

Tapi keputusanku ini ternyata cuma membuat mobil di belakang itu salah paham. Baru aku menginjakkan rem saja klaksonnya sudah menyalak galak sekali. Tapi keputusan telah ditetapkan, dan abang becak telah mengambil jalan. Hanya si mobil belakang ini juga telah membulatkan hati: memilih menyalipku katimbang ikut berhenti. Maka yang terjadi terjadilah.

Seterusnya ia harus kaget setengah mati ketika becak itu nongol begitu saja di moncong mobilnya. Ia menginjak rem sekuat yang ia bisa. Tabrakan keras memang tidak terjadi tapi sekadar ciuman bumper pun itu telah membuat sang becak terguling. Muatan buahnya yang menggunung berhamburan ke sekujur jalan. Sebagai kecelakaan ia tidak ngeri, tapi buah-buah yang berhamburan itu benar-benar telah menjadi provokasi tersendiri.

Jalanan macet seketika. Si mobil dibelakangku pucat pasi. Ia seorang lelaki, terpelajar, tapi saat itu sudah berubah menjadi orang dogol. Posisi mobilnya secara mencolok mengatakan bahwa dialah biang keladi kemacetan ini. Semua pihak kini menudingnya. Dan abang becak yang terkapar, ini entah belajar teori drama dari mana, membangun sensasi. Ia membiarkan saja becaknya telentang. Ia sendiri dengan ketenangan seorang jagoan, memilih bangkit dan berjalan menghampiri si pengemudi dan langsung menghajarnya.

Cerita selanjutnya bukan urusanku lagi. Tapi tak sulit merekonstruksi ending insiden ini. Betapa tidak enak membayangkan pengemudi mobil tadi, seorang yang tampak terpelajar, bertampang bersih, tapi cuma jadi bahan olok-olok lingkungan dan dipukuli abang becak lagi. Padahal, jika ia mau sedikit bersabar, dan terpenting, mau mempercayaiku untuk ikut berhenti, musibah ini tentu tidak akan terjadi. Tapi begitulah memang keadaan di negeriku, orang lain tak pernah dibiarkan menjadi imam, walau ia memang tengah memegang otoritas yang sesungguhnya.

Inilah kenapa kita selalu terdorong main klakson kepada mobil yang ada di depan. Itulah kenapa dalam hal antre, leher kita cenderung terjulur demikian panjang untuk selalu gatal menginterogasi keadaan di depan. Padahal di depan itu sering tidak terjadi apa-apa. Kemacetan itu masih baik-baik saja. Sekeras apapun klakson ini engkau ledakkan, engkau masih akan macet juga jika waktu lancar memang belum tiba. Pada gilirannya, antrean pasti akan bergerak maju dengan caranya sendiri. Jika semua masih terhenti, pasti karena masih ada persoalan. Tapi biarlah itu persoalan yang di depan. Kita di belakang sini, tinggal mempercayai. Berat memang, tapi inilah ongkos hidup bersama. Harus ada semacam tebusan sebagai ongkos kepercayaan.

Ketidaksabaran membayar ongkos inilah yang membuat hidup bersama sering dilanda kekacauan. Para imam, pemimpin, dan pihak yang di depan itu, memang bisa saja menyelewengkan kepercayaan. Kita boleh kecewa tapi tak perlu trauma. Karena untuk hidup bersama, manusia memang butuh saling percaya. Soal bahwa sesekali kita tertipu, tidak usah diherankan pula. Siapa yang sama sekali bisa membebaskan diri dari nasib sial? Rasanya tak ada. Maka jika saat itu aku engkau percayai, engkau pasti tak akan dipukuli. Oleh abang becak lagi.